Home Seni & Budaya Warga RW01 Labruk Kidul Gelar Tradisi Gunungan Tempe Wedok Sambut Tahun Baru Islam 1448 H

Warga RW01 Labruk Kidul Gelar Tradisi Gunungan Tempe Wedok Sambut Tahun Baru Islam 1448 H

Bupati Lumajang Indah Amperawati Lepas Arak-Arakan Gunungan Tempe Wedok Unik Khas Sumbersuko

20
0
SHARE
Warga RW01 Labruk Kidul Gelar Tradisi Gunungan Tempe Wedok Sambut Tahun Baru Islam 1448 H

Keterangan Gambar : Ratusan masyarakat tampak berebut gunungan Tempek Wedok.di desa Labruk Kidul RW 01.kabupaten Lumajang.Jatim Senin (15/6/2026).dalam acara tradisi gunungan Tempe Wedok dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1448 H.Foto Cucuk Donartono

Warga RW01 Labruk Kidul Gelar Tradisi Gunungan Tempe Wedok Sambut Tahun Baru Islam 1448 H

Seputar Lumajang. — Suasana meriah menyelimuti lingkungan RW01, Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Senin malam (15/6/2026). Ratusan warga setempat berbondong-bondong menyaksikan dan mengikuti tradisi tahunan *Gunungan Tempe Wedok. yang digelar dalam rangka menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Acara yang seluruhnya bersumber dari dana swadaya mandiri warga ini melibatkan partisipasi aktif dari tujuh Rukun Tetangga (RT) yang ada di lingkungan RW01. Tanpa bantuan dari dana pemerintah, semangat gotong royong masyarakat Labruk Kidul kembali terbukti mampu melestarikan tradisi leluhur dengan kekuatan sendiri.

Puncak acara ditandai dengan pelepasan arak-arakan gunungan, oleh Bupati Lumajang, Indah Amperawati. Dalam sambutannya, Bupati Indah mengapresiasi kegigihan warga RW01 dalam menjaga dan merawat tradisi lokal yang telah menjadi identitas khas wilayah Sumbersuko.

"Tradisi seperti ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas. Semoga Gunungan Tempe Wedok. terus lestari dan menjadi daya tarik budaya Lumajang," ujar Indah Amperawati saat melepas iring-iringan arak-arakan.

Yang membedakan Tempe Wedok dari tempe konvensional pada umumnya adalah proses pembungkusannya yang masih dilakukan secara tradisional. Setiap balok tempe dibungkus rapat menggunakan pelepah pisang gedang klutuk,sejenis pisang lokal yang kulit batangnya tebal dan berwarna kehitaman—bukan plastik atau daun pisang biasa.

Pelepah pisang gedang klutuk dipilih karena dipercaya mampu memberikan aroma khas dan menjaga kesegaran tempe lebih lama. Metode pengemasan ini juga diyakini membuat proses fermentasi kedelai berlangsung lebih sempurna, menghasilkan tekstur tempe yang padat dan cita rasa yang kaya.

Sebelum gunungan 5000 kemesan Tempe Wedok tersebut diperebutkan warga, iring-iringan arak-arakan terlebih dahulu berkeliling lingkungan desa. Di iringi lantunan Sholawat dan Albanjari, serta mengarak gunungan berbentuk tumpukan besar yang dihias dengan hiasan kemasan  melambai menjadi pusat perhatian.

Prosesi arak-arakan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga memiliki makna spiritual bagi warga Labruk Kidul. Mereka percaya bahwa mengikuti atau sekadar menyaksikan arak-arakan gunungan akan membawa berkah dan keberkahan di tahun baru Islam yang akan datang.

Setelah putaran keliling desa selesai, gunungan kemudian diletakkan di lapangan utama. Dengan aba-aba dari panitia, warga yang telah menunggu dengan antusias langsung berebut balok Tempe Wedok. Tradisi berebut* ini melambangkan harapan warga agar rezeki di tahun baru berlimpah ruah, sebagaimana balok-balok tempe yang dibagikan kepada semua yang hadir

Luluk Khomarioh salah satu warga desa Labruk Kidul,RW01.dan genearsi ke lima dari usaha produksi tempe Wedok ini. menuturkan. Tradisi Gunungan Tempe Wedok di Labruk Kidul merupakan salah satu warisan budaya unik desa labruk Kidul kabupaten Lumajang yang memadukan unsur religius, kearifan lokal pengolahan pangan tradisional, serta semangat kegotongroyongan masyarakat pedesaan.kenapa di namakan Tempe Wedok karena ada filosovinya.di mana tempe Wedok ini menggambarkan seorang wanita yang di balut dengan kain jarik,yang merepukan pelepah pisang.di ikat dengan udet dari serat pisang.

Lebih lanjut lagi luluk mengungkapakan, tradisi Gunungan Tempe Wedok telah berlangsung selama lebih dari tujuh generasi sekitar 200 tahun ejak masa kolonial Belanda.

"Dulu nenek moyang kita mengadakan ritual serupa untuk memohon hasil panen kedelai melimpah. Setelah Islam masuk ke Lumajang, ritual itu disesuaikan dengan kalender Hijriah dan dilaksanakan menjelang 1 Muharram. Kata 'wedok' sendiri konon berasal dari istilah lokal yang berarti 'banyak' atau 'melimpah', bukan berarti perempuan," jelas Mbah Sarmi sambil mengenang masa kecilnya turut berebut tempe bersama kakeknya.

Sejarah lisan warga setempat menyebutkan bahwa dahulu Tempe Wedok dibuat sebagai persembahan kepada para pembesar desa yang berjasa membuka lahan pertanian di wilayah Sumbersuko. Seiring waktu, tradisi tersebut bertransformasi menjadi perayaan kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

 

Penulis : Cucuk Donartono